Artikel mengenai model baju batik songket




20
Dec 12

Pakaian Batik, Kain Tenun Songket dan Tenun Ikat



Cara Memilih Kain untuk Pakaian Batik

Pakaian batik saat ini sangat populer tidak hanya sebagai pakaian kerja, seragam sekolah atau pakaian untuk hari-hari khusus, melainkan juga pakaian yang bisa dikenakan untuk berjalan-jalan dan pergi keluar bersama keluarga atau teman-teman. Walaupun sudah ada ratusan model pakaian batik baik untuk pria maupun wanita, ada juga orang-orang yang tidak puas bila tidak menjahitkan sendiri pakaian mereka dari kain batik utuh karena bisa bebas memilih model (mungkin termasuk anda). Tetapi, memilih kain batik untuk dibuat pakaian juga ada triknya agar pakaian anda kelak tidak hanya terlihat cantik tetapi juga bisa awet dan tahan lama.

Berikut beberapa trik sederhana untuk memilih kain batik yang bermutu untuk pakaian:

1. Balik kainnya untuk membandingkan corak di sebelah luar dan dalam. Jika corak kain batik tersebut sama di kedua sisi, biasanya akan lebih awet dan tahan lama dibandingkan kalau coraknya berlainan.

2. Raba kainnya dengan tekanan agak kuat untuk melihat apakah ada warna yang menempel di kulit anda. Jika ya, hati-hati karena kemungkinan pakaian yang dibuat dari kain itu akan mudah luntur.

3. Jika anggaran anda lebih, belilah kain batik tulis asli. Selain lebih bermutu serta awet, kain batik tulis asli juga memiliki nilai historis dan budaya yang kental sehingga akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi anda jika dijadikan bahan pakaian.

Jika anda sudah yakin kain untuk bahan pakaian batik anda tidak bermasalah dari segi mutu, anda tinggal menentukan motif, warna dan kain apa yang cocok dengan selera serta anggaran anda. Misalnya, untuk urusan jenis kain, pilihannya bisa antara sutra yang mahal atau katun yang lebih murah. Dari segi metode pembuatan batik, kain batik cap merupakan alternatif yang lebih murah daripada batik tulis, apalagi sekarang pun banyak motif batik cap yang bagus. Apapun jenis kain batik yang anda beli, yang terpenting adalah memastikan bahwa kain untuk bahan pakaian tersebut dapat memertahankan motif, corak serta warnanya walaupun terekspos oleh proses pencucian, penjemuran dan penyetrikaan.

Songket, Kerajinan Kain Mewah nan Menawan

Jika anda suka membeli kain tenun Indonesia asli, anda mungkin tidak merasa heran melihat bahwa kain tenun songket rata-rata berharga jauh lebih mahal daripada kain jenis lain. Hal ini karena songket asli menggunakan bahan benang emas, perak atau tembaga untuk menciptakan motif yang kaya dan rumit sehingga membuat kain menjadi nampak mewah dan berkilai. Apalagi, karena termasuk tenunan brokat, songket memiliki permukaan yang halus sehingga kesan mewah serta eksklusifnya semakin jelas. Dari semua jenis kain tenun songket yang ada di Indonesia, songket Palembang merupakan yang paling dikenal karena kualitas serta kemewahannya. Hal ini bisa jadi karena songket mencapai jaman keemasannya pada masa Kerajaan Sriwijaya, dimana banyak pengrajin bisa mendapat persediaan benang emas asli yang melimpah.

Ragam Motif Songket

Daya tarik utama kain tenun songket bukan hanya pada tekstur halus serta kesan mewah dari benang emas dan peraknya, melainkan juga pada keanekaragaman motifnya. Bayangkan, Sumatera Selatan sendiri saja sudah memiliki 71 buah motif asli! Salah satu motif songket yang dipopulerkan di media kaos olahraga adalah motif Berante Bekam, yang bisa dilihat pada kaos tim Sriwijaya FC. Sayangnya, hingga saat ini baru 22 motif yang hak patennya terdaftar secara resmi, seperti motif Lepus Pulik, Nampan Perak dan Bungo Intan. Selain di Sumatera Selatan, songket juga bisa ditemukan di daerah lain seperti Bali, Sumatera Barat, Kalimantan dan Aceh.

Perkembangan Songket

Songket yang dulu hanya bisa dikenakan kaum bangsawan sudah berubah menjadi kerajinan yang bisa diakses siapa saja; hal ini tentu juga dikarenakan penemuan teknologi pembuatan benang emas dan perak sintetis yang bisa menurunkan harga songket secara drastis. Akan tetapi, para pengoleksi kain songket asli Indonesia juga tidak segan merogoh kocek dalam-dalam demi sehelai kain songket asli yang harganya bisa lebih dari 10 juta rupiah. Jika sebelumnya songket hanya digunakan sebagai bagian dari pakaian adat atau gaun pengantin, kini banyak pengrajin dan desainer yang membuat ragam produk dari kain tenun songket seperti gaun pesta, selendang, tas hingga dompet dan tempat ponsel.

Koleksi Busana Tenun Ikat dari Ikat Indonesia

Tenun ikat merupakan jenis kain tenunan yang bernilai tinggi, terutama yang dibuat dengan menggunakan alat tenun bukan mesin dan tingkat keahlian tinggi. Bayangkan, selembar kain tenun ikat Bali yang asli saja bisa berharga hingga 1 juta rupiah! Apalagi, proses pembuatan berbagai jenis kain tenun ikat asli Indonesia memiliki kekhasan tersendiri baik dalam hal penggunaan bahan pewarna, pembentukan pola hingga pemilihan motif yang disesuaikan dengan kekayaan budaya dan filosofi lokal daerah tempat asal kain tersebut. Bayangkan jika kain-kain tenun ikat tersebut dijadikan busana atau gaun; pastinya gaun tersebut akan terlihat cantik, berseni dan lain dari yang lain.

Label Indonesia untuk Koleksi Gaun Tenun Ikat

Jika anda ingin bisa hasil kreasi tenun ikat asli berupa gaun atau busana yang indah, anda patut menyambangi koleksi busana dari label Ikat Indonesia. Label yang diprakarsai oleh perancang muda Maharditya Maulana alias Didit ini memang sengaja dibuat khusus untuk menaungi koleksi busana dari kain tenun ikat yang tidak hanya pantas dikenakan untuk acara-acara khusus atau sebagai bagian dari baju adat, melainkan juga berbagai jenis busana mulai dari busana kerja, busana kasual hingga gaun malam dan gaun pesta. Bahkan ada juga kain tenun ikat yang dijadikan celana longgar serta blus, yang biasanya tidak begitu identik dengan kain ikat sebagai bahannya.

Koleksi pertama label Ikat Indonesia milik Didit diluncurkan pada tahun 2011 dan terdiri dari 40 macam busana berbahan dasar kain ikat untuk berbagai situasi, dan pastinya akan terus bertambah. Selain penggunaan kain tenun ikat sebagai bahan utama, Didit juga dengan cerdik memadupadankan unsur lain seperti paduan motif kulit hewan dan motif tenun ikat, atau aksen corak ikat pada gaun dengan bahan polos. Sejauh ini, kain tenun ikat yang digunakan Didit adalah kain dari Bali, Kalimantan dan Sumba yang memang khusus dipesan dari pengrajin lokal, namun tentu saja Didit akan melebarkan bahan kreasinya ke kain-kain dari wilayah lain di Indonesia yang juga unik dan indah.


1
Aug 11

Mengenal Multibudaya Masyarakat Kupang


Kupang (foto: mexybaitanu.blogspot.com)

Kupang (foto: mexybaitanu.blogspot.com)

Kupang merupakan ibu kota Nusa Tenggara Timur yang di barat daya Pulau Timor.

Sebagai salah satu dari tiga pulau terbesar di Nusa Tenggara Timur, Pulau Timor sekarang diduduki oleh dua Negara yaitu Timor Leste yang baru melepaskan diri dari Indonesia, dan sisanya adalah wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Seperti masyarakat di kota lain NTT, orang Kupang pun memiliki motif dan pola kain tenun yang disebut tenun ikat.

Tenun Ikat adalah hasil keterampilan lokal, ditenun dengan indah berpadu pola-pola yang rumit penuh makna.

Bukan hanya orang Kupang yang bangga terhadap kain tenun tetapi semua orang Indonesia telah merasa memiliknya sebagai identitas nasional dan menjadi salah satu warisan berharga nasional.

Sumber: Okezone.com.


15
Jun 10

Lurik si Kain Bergaris-garis


Lurik adalah jenis bahan khas nusantara yang juga melewati proses penenunan dalam pembuatannya. Setelah diberi warna, benang-benang ditenun dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin).

Salah satu contoh lurik adalah seperti pada gambar ini:

Jika dulu yang biasa dibayangkan orang tentang lurik adalah sebatas kain garis-garis dengan warna-warna dasar seperti coklat, hitam, dan putih, kini sudah tidak begitu lagi keadaannya.

Lurik kini memiliki ragam warna yang kaya. Seperti contohg di atas, warnanya berkisar antara pink, ungu, hijau muda, dan banyak lagi warna-warna lainnya yang indah-indah.

Silakan klik di sini untuk melihat koleksi lurik kainikat.com.

Pada sebuah artikel di Fashionesedaily.com tentang lurik, dijelaskan bahwa lurik telah ada di jawa sejak zaman pra sejarah. Salah satu pembuktiannya adalah pada Prasasti peninggalan kerajaan Mataram (851-882 M) yang menunjukkan adanya kain lurik pakan malang.

Dalam artikel tersebut juga dijelaskan bahwa kata lurik berasal dari bahasa Jawa kuno lorek yang berarti lajur atau garis, belang dapat pula berarti corak.

Selain sebagai busana, lurik juga kerap diaplikasikan pada unsur fashion lainnya seperti pada tas ataupun dompet. Sementara itu, lurik juga digunakan untuk mempercantik tampilan placemat.