Kain sasirangan yang dikenal sejak adanya kerajaan Banjar pada abad 16 ini, ternyata menyimpan mitologi yang menarik.
Kisah ini diawali dengan Patih Kerajaan Lambung Mangkurat yang ingin mendapatkan pendamping. Hingga dia memilih untuk bertapa selama 40 hari di atas rakit. Di ujung pertapaannya, rakit berada di muara sungai Lubuk Baduyu.
Di wilayah hulu Sungai Utara itulah, sang Patih dikejutkan oleh suara putri yang bersedia menjadi pendampingnya. Namun si putri mengajukan syarat, yaitu dibuatkan sebuah kain berwarna kuning keemasan, berupa kain Cacalupan yang dikerjakan oleh 40 gadis dalam sehari.
Mitologi inilah yang menyertai munculnya kain sasirangan, yang pembuatannya dengan cara dicelup.



