Tenun Troso
Tenun Troso: 5 Hal yang Perlu Kamu Ketahui
Jepara bisa jadi lebih terkenal dengan ukirannya. Tapi tahukah kamu, di kota kecil yang indah ini ada sebuah desa yang menjadi pusat produksi kain-kain cantik? Tenun Troso, demikian kain-kain tersebut dikenal.
Nah, berkenalan lebih dekat dengan tenun Troso, yuk!
1. Troso
Troso, apa yang terlintas di pikiranmu begitu mendengar nama ini? Unik, ya? Saya jadi menduga-duga, tenun troso itu sebenarnya tenun yang seperti apa, sih?
Ternyata Troso adalah nama sebuah desa, sentra produksi tenun yang akan kita bicarakan ini. Desa Troso terletak di Pecangaan, yang terletak 15 km dari kota Jepara. Di daerah tersebut, kain-kain tenun ikat yang cantik dibuat dan dijadikan berbagai jenis barang. Baju, bed cover, selimut, gordyn, syal, berbagai hiasan furniture yang cantik, dan masih banyak lagi. Orang menyebutnya sebagai Tenun Troso.
2. Sejarah Tenun Troso
Warga Desa Troso sudah membuat tenun ikat sejak tahun 1935. Keahlian ini didapat secara turun-temurun dari keluarga. Mula-mula mereka membuat tenun gendong. Lalu, pada tahun 1943, keahlian mereka berkembang, dengan membuat tenun pancal.
Nah, sejak tahun 1946, baru deh, mereka membuat tenun dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang hailnya disebut sebagai tenun troso.
Perkembangan tenun troso yang sangat prospektif menginspirasi desa-desa sekitar Troso untuk melakukan hal yang sama. Desa Sowan Lor dan Desa Pecangaan Kulon yang bersebelahan dengan Desa Troso pun kini melakukan usaha yang sama, membuat kain tenun troso.
3. Motif Tenun Troso
Ada dua motif yang sangat khas yang diciptakan oleh warga Troso pada hasil karya tenun mereka, yaitu:
- Motif cemara/pohon cemara.
- Motif lompong/daun talas.
Dua motif tersebut sempat mengalami masa keemasan. Namun sayang, kini dua motif tersebut sudah jarang diproduksi. Sebabnya, pengrajin harus luwes menerjemahkan permintaan pasar. Alih-alih membuat motif ciptaan sendiri, yang seharusnya dilestarikan sebagai ciri khas yang unik, mereka justru memproduksi kain tenun dengan motif khas daerah lain.
Akan tetapi, upaya tersebut membuat tenun troso tetap eksis dan tak tergoyahkan oleh krisis ekonomi. Yup, di era perdagangan bebas ini, butuh strategi jitu untuk bertahan di tengah persaingan yang ketat.
4. Bahan
Bahan baku yang digunakan untuk membuat tenun troso yaitu benang katun, viskos, sutra alam, serat nanas, rayon, pewarna, dan rafia.
Bahan baku yang mereka butuhkan untuk memenuhi permintaan pasar adalah sebanyak 1.326 ton per tahun dengan nilai bahan baku sekitar Rp. 65,2 Milyar.
Wow …fantastis!
5. Program Pelestarian Tenun Troso
Pemerintah Kabupaten Jepara sangat giat mendorong pelestarian tenun troso. Mereka mendorong pengusaha tenun troso untuk mengikuti pameran-pameran berskala nasional, bahkan internasional. Ekspor tenun ke luar negeri pun dilakukan melalui pintu pasar dari Bali, Yogyakarta, dan Jakarta.
Tindakan nyata pelestarian tenun troso di daerah asal mereka diwujudkan dengan digunakan kain tenun troso sebagai bahan seragam resmi PNS dan karyawan BUMD setiap hari Kamis dan Jumat.
Demikian seklumit informasi tentang tenun troso. Jadi, sekarang kamu sudah tahu kan, di Jepara tidak hanya ukiran dan mebelnya saja yang menonjol. Jika kamu berkunjung ke Jepara, jangan lupa beli tenun troso, ya?!
Related Tenun Ikat Jumputan Search: produsen tenun troso, ciri kain tenun troso adalah, kekurangan produk kain tenun troso, kain troso dari, bahan dasar tenun ikat,