Tenun Ikat NTT

Tenun Ikat NTT: Beberapa Hal tentang Tenun Rote, Sawu, dan Ndao yang Perlu Kamu Ketahui

Di NTT, perbedaan peran wanita dan lelaki sangat kentara. Pekerjaan maskulin seperti membuat rumah dan membuat perhiasan logam hanya dilakukan oleh lelaki.

Sementara wanita mengerjakan pekerjaan feminin, salah satunya adalah menenun. Wanita harus bisa setiap tahap dari pekerjaan menenun kain, mulai dari mengolah benang, hingga mempelajari motif-motif yang sesuai dengan adat dan nilai budaya daerah setempat.

Kelompok pulau lainnya di NTT yang kental budaya menenunnya adalah Rote, Ndao, dan Sawu. Secara geografis, ketiga pulau tersebut berdekatan. Oleh sebab itu, motif tenun dari ketiga pulau tersebut senada karena saling memengaruhi. Umumnya, motif tenun dari ketiga pulau itu berupa motif floral dan motif geometris yang terangkai halus dalam beberapa jalur.

Motif potola yang dibawa oleh pedagang-pedagang Gujarat pada abad ketujuh belas menjadi motif berharga yang memperkaya khasanah motif tenun mereka. Betapa tidak, dahulu kain potola hanya dikenakan oleh keluarga raja dan bangsawan. Kain itu diwariskan turun temurun di kalangan mereka saja. Namun keberadaannya yang langka tak membuat para penenun di ketiga pulau tersebut tak mampu menyerap motif potola. Hingga kini, bunga bersudut delapan dalam lingkaran yang motif potola malah menjadi ciri khas tenunan mereka.

Berikut ini beberapa info untuk kamu tentang ciri tenun di masing-masing pulau:

1. Tenun Rote

Kain tenun ikat dari Rote biasanya berupa kain sarung yang disebut pou, selimut untuk anak lelaki yang disebut lava, atau delava yakni selendang. Warna khas tenun Rote adalah coklat, biru, kuning, dan hitam, dengan motif bunga dan dedaunan. Bentuk tumpal dan belah ketupat menjadi motif bagian bawah kain tenun.

2. Tenun Sawu

Motif tenun ikat dari Sawu dipengaruhi oleh sistim kekerabatan yang rumit di dalam masyarakatnya. Motif bunga besar dan warna biru tua kombinasi merah terang melambangkan keanggotaan pada klan besar. Sementara motif bunga kecil dan warna biru muda menandakan keanggotaan pada klan kecil.

3. Tenun Ndao

Motif tenun ikat di daerah Ndao mengandung unsur motif tenun ikat dari Rote dan Sawu. Banyak orang ndao yang bekerja secara musiman di pulau Rote dan sawu. Atau sebaliknya, pesanan kain tenun pulau Rote dan Sawu dikerjakan oleh penenun Ndao di Ndao.

Tak heran jika NTT sangat kaya akan ragam kain tenun ikat. Pekerjaan menenun sudah mendarah daging bagi penduduknya. Bahkan menurut mereka, pekerjaan menenun adalah pekerjaan yang diturunkan oleh Dewa.