Tenun Flores NTT

Tenun Flores NTT: 6 Hal yang Perlu Kamu Ketahui

Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah pulau yang kaya, terdiri dari banyak pulau, dan masing-masing pulau mempunyai potensi budaya yang mengusung ciri khas  berbeda. Salah satu produk budaya yang menonjol di NTT adalah kain tenun ikat.

Flores, sebagai bagian dari kelompok pulau di NTT terdiri dari tiga puluh suku dengan bahasa dan dialek yang berbeda. Hasil tenun dari suku-suku di Flores juga mempunyai ciri khas masing-masing. Oh ya, ada kebiasaan unik yang yang dilakukan wanita Flores saat menenun, yaitu mengunyah sirih epanjang mereka bekerja.

Penenun flores memilin sendiri kapas untuk dijadikan benang yang akan ditenun. Mereka juga mencelup sendiri banang ke dalam bahan pewarna. Untuk mendapatkan warna yang tahan lama,pencelupan dilakukan berkali-kali. Telapak tangan dan kuku-kuku wanita penenun sampai berwarna hitam gara-gara melakukan pencelupan.

Beberapa daerah di Flores yang hasil tenunnya cukup menonjol adalah:

1. Tenun Manggarai

Di Manggarai, ada teknik khusus dalam pembuatan ikat, yaitu menggunakan lidi-lidi pengungkit untuk menghasilkan pakan tenun songket tambahan.

2. Ngada

Tenun ikat di Ngada umumnya bergaris sederhana dengan warna kombinasi biru dan coklat yang gelap.

3. Sikka

Perempuan suku Sikka menggunakan kain sarung dari tenun ikat sebatas pinggang, biasa disebut utan. Sementara untuk baju atasnya, mereka mengenakan kebaya yang disebut labu. Mereka melengkapinya dengan dong atau sejenis selendang, serta konde berbentuk bunga yang disebut bunga we.

4. Ende

Kain tenun Ende mendapat pengaruh yang kuat dari Eropa, sebab secara geografis Ende berada di pesisir selatan Flores. Ragam hias kain tenun ikat Ende hanya menggunakan satu motif di tengah-tengah kain.

5. Lio

Motif tenun ikat di daerah Lio terilhami oleh motif potola India, atau motif jlamprang dan ceplok pada batik. Ragam hias dahan, daun, dan ranting turut melengkapi kain tenun ikat dari Lio.

6. Lembata

Ada dua jenis kain tenun ikat Lembata. Kewatek nai rua, yaitu kain sarung yang tenunannya terdiri dari dua bagian kain yang digabungkan. Dan Kewatek nai telo kain yang terdiri dari tiga bagian yang disambung menjadi satu sarung.

Pekerjaan menenun kain ini berlangsung hingga berbulan-bulan. Dengan sangat tekun dan sabar mereka menenun. Mereka tak bosan, sebab menenun bagi mereka adalah menoreh jejak kebudayaan.