Tenun Bali

Tenun Bali: 5 Hal yang Perlu Kamu Ketahui

Warna merah pada kain tenun Gringsing terlihat misterius. Kabar yang berembus dan beredar di kalangan masyarakat Bali mengatakan, bahan pewarna yang digunakan untuk memberi warna merah pada benang tenun Gringsing adalah darah manusia. Wah, seram juga, ya?

Tapi jangan takut dulu. Kabar itu tak sahih. Sesungguhnya, mereka memakai pewarna alami, kok. Kabar itu sengaja disebar agar tak ada pihak yang meniru warna merah tenun gringsing yang khas.

Kain-kain dalam adat bali di sebut wastra, dan mempunyai peranan penting dalam upacara-upacara adat di Bali. Seperti kamu ketahui, masyarakat Bali sangat mematuhi adat. Dari matahari terbit hingga terbenam, mereka melakukan ritual adat khusus.

Wastra-wastra tertentu, bisa jadi berupa songket, tenun ikat, paduan keduanya, tenun dobel ikat atau gringsing, dan beberapa jenis wastra lainnya, wajib dikenakan pada upacara adat tertentu. Wastra yang berkaitan dengan upacara-upacara keagamaan disebut wastra bertuah.

Penasaran dengan wastra-wastra dari Bali? Simak yuk, 5 hal yang perlu kamu ketahui tentang tenun bali di bawah ini.

1. Wastra Gringsing

Bahan pembuat wastra gringsing adalah benang dari kapas, yang ditenun dengan teknik dobel ikat. Teknik mengikat benang lungsi dan benang pakan sekaligus adalah teknik yang langka. Tercatat, hanya India dan Jepang yang memraktikkan teknik tenunan ganda seperti ini.

Tingkat kesulitan wastra gringsing cukup tinggi. Butuh waktu satu hingga lima tahun untuk menyelesaikan sehelai kain wastra gringsing. Wow … bisa dibayangkan bukan, betapa seorang penenun harus mempunyai tingkat ketelitian dan kesabaran yang tinggi.

2. Wastra Endek

Pada wastra endek, terdapat teknik coletan atau biasa disebut nyantri di bagian-bagian tertentu ragam hias. Nyantri yaitu menggores warna menggunakan kuas bambu. Ciri khas wastra endek yaitu adanya kombinasi benang emas atau perak di pinggiran tenunan.

Umumnya wastra endek berbentuk sarung dan kain panjang. Biasanya bermotif flora, fauna, dan bagian-bagian dari mitologi Bali serta wayang.

3. Wastra Cepuk

Wastra Cepuk berasal dari Nusa Penida. Bahannya berupa benang kapas yang halus atau benang sutra di bagian lungsi/vertikal. Wastra cepuk diberi ragam hias dengan teknik yang sama dengan wastra endek. Ragam hias itu berwarna merah khas, dengan motif warna-warni.

Wastra cepuk digunakan untuk menutup peti jenazah. Juga sebagai kostum khusus penari Rangda dalam dramatari Calon Arang.

4. Wastra Songket dengan Ragam Hias Prada

Wastra songket mempunyai nilai prestise yang tinggi. Terutama songket dengan ragam hias prada, atau hiasan dari lempengan tipis yang terbuat dari serbuk emas, yang dibentuk menjadi motif di permukaan kain tenun. Perekat lempengan prada terbuat dari serbuk tulang ikan. Wastra ini biasanya digunakan untuk pesta upacara adat atau saat menari.

5. Wastra Gedogan, Skordi, Kling, dan Gotya

Wastra Gedogan memiliki 11 garis warna-warni. Wastra ini dianggap mempunyai kekuatan magis yang paling ampuh dibanding wastra-wastra lainnya. Selain itu, wastra-wastra lain yang dianggap ampuh adalah wastra skordi, yang beragam hias garis atau kotak-kotak dengan warna utama merah, kling, yang beragam hias kotak berwarna kekuningan, serta gotya yang berciri ragam hias kotak-kotak beraneka warna.

Menarik juga ya, wastra-wastra tenun khas Bali. Selain indah, juga sarat makna. Tertarikkah kamu untuk memiliki satu di antaranya?