Kain Tenun

Kain Tenun: 5 Hal yang Perlu Kamu Ketahui

Ingatan masa kecil itu tak pernah pudar. Oleh-oleh yang diberikan ayah pada ibu menetap jelas dalam ingatan. Ini tentang sehelai kain dengan permukaan bertekstur, motif yang unik, dan warna-warna yang tegas.

Kain tenun adalah oleh-oleh yang kerap dibawa ayah sepulang bertugas. Sebut saja kalau beliau dari Sumatra, Kalimantan, atau Bali.

“Ini kain songket,” kata ibu.

Saya mengamati detil kain yang rumit. Di antara jalinan benang-benang tebal yang membentuk motif geometris tersebut terselip benang berwarna emas. Berbeda dengan benang lainnya, benang tersebut agak lebar, namun sangat tipis. Aksen warna emas di sela-sela motif membuat kain semakin cantik.

Biasanya, ibu menjahit kain-kain tenun tersebut menjadi rok span panjang, dengan belahan di bagian belakang untuk memudahkannya berjalan. Rok tersebut akan dipadu dengan atasan dari bahan brokat, dan dikenakan untuk menghadiri pesta pernikahan.

1. Kain Tenun, Sebuah Budaya

Kain tenun yang dihasilkan daerah-daerah tertentu di Indonesia tidak dibuat untuk keperluan sandang semata. Kain tenun disimpan sebagai benda pusaka yang diwariskan secara turun temurun, alat barter, atau dipakai saat upacara adat.

Kain tenun juga pernah digunakan sebagai mata uang, seperti di Buton Sulawesi Tenggara dan di Papua. Di Buton, mata uang ditenun oleh putri-putri raja. Sementara di Papua yang tidak mengenal tradisi menenun, menggunakan sobekan kain tenun dari Timor untuk alat pembayaran.

2. Bahan Dasar kain Tenun

Benang yang digunakan untuk membuat kain tenun umumnya berasal dari serat alami. Masyarakat Sangir dan Talaud menggunakan serat dari pohon pisang liar yang disebut koffo, suku Dayak Iban memakai serat nanas, sementara penduduk Toraja memakai serat daun lontar. Selain itu, juga berasal dari kapas yang dipilin dan dipintal menggunakan alat tradisional untuk menjadi benang.

3. Pewarna

Warna-warna indah pada kain tenun berasal dari pewarna alami. Benang yang akan dijadikan kain tenun melalui proses pencelupan untuk menghasilkan warna berbeda. Tentang tua-mudanya warna tergantung berapa lama proses pencelupan.

Warna biru berasal dari tanaman indigo. Buah mengkudu dapat menghasilkan warna coklat, merah, dan ungu. Kuning dari kunyit, sementara hijau adalah campuran kunyit dan indigo. Sementara itu warna hitam diperoleh dengan merendam benang dalam lumpur, atau campuran indigo dengan berbagai bahan warna lain.

4. Ragam Hias

Ragam hias kain tenun umumnya dipengaruhi oleh konsep alam seperti flora, fauna, gunung, sungai, matahari, juga kepercayaan magis. Unsur-unsur tersebut diwujudkan dalam garis-garis geometris berbentuk spiral, kait, segi tiga, segi empat, bulatan, dll.

5. Teknik Membuat Tenun Ikat

Ada tiga teknik yang paling umum dalam membuat kain tenun. Pertama, teknik ikat lungsi, yaitu menciptakan ragam hias dan pencelupan hanya pada benang lungsi atau vertikal. Kedua, teknik ikat pakan, yaitu ragam hias ikatnya dibuat pada benang pakan, atau horizontal. Terakhir, teknik tenun ikat berganda, dimana pola ragam hias dibuat pada benang lungsi dan pakan sekaligus.

Puluhan tahun berselang, ternyata masih ada satu rok kain tenun milik ibu yang masih genjreng warnanya. Dengan mesin jahitnya, ibu memermak beberapa bagian rok sehingga pas benar dengan ukuran tubuhnya saat ini.

Terbukti, kain tradisional, yang bagi sebagian orang mungkin dianggap ketinggalan zaman, sesungguhnya justru sangat lentur mengikuti laju zaman.

Klasik dan selalu menarik!