Blog


14
Jan 11

Tren Mode 2011, Etnik dan Eksotis

Tren Mode 2011

Tenun akan menjadi salah satu tren mode 2011. Etnik dan eksotis.

Beberapa waktu silam, desainer Carmanita, Tuty Cholid, dan Priyo menghadirkan rancangan mereka yang bernuansa etnik pada pagelaran busana Trend Show IPMI.

Tenun yang diangkat adalah tenun Makassar, Ujung Pandang, tenun ikat Bali, songket Palembang, serta tenun dan songket Bali.

Meski mengemasnya dalam desain modern, karya ketiga perancang ini sangat kuat unsur etniknya.

Siap tampil cantik di 2011? Kenakan tenun ikat!

Sumber berita & foto: Tren Mode 2011, Sentuhan Etnik nan Eksotis – lifestyle.okezone.com.


12
Jan 11

Kebudayaan dan Pariwisata Sintang

Kabupaten Sintang memiliki empat objek wisata unggulan. Pertama, Bukit Kelam di Kecamatan Kelam Permai. Objek wisata andalan kedua Sintang adalah Rumah Betang Ensaid Panjang di Kecamatan Dedai. Selanjutnya Baning Forest (Hutan Baning) yang menjadi wadah beberapa orang utan. Terakhir adalah Museum Kapuas Raya yang merupakan hasil kerjasama Pemda Sintang dengan Belanda.

Tenun ikat khas Sintang juga menjadi salah satu pemikat pariwisata di sana. Pemerintah setempat senantiasa menjadikan tenun ikat sebagai cenderamata bagi tamu-tamu kehormatan Kabupaten Sintang.

Disarikan dari: Pontianak Post Online | Kebudayaan dan Pariwisata Harus Imbang.


12
Jan 11

Pameran Tenun Ikat

Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang berlangsung di Kota Kupang, selama 5 – 9 Februari 2011, rencananya akan dimeriahkan dengan pameran tenun ikat.

Pihak panitia masih berkoordinasi dengan Dekranasda Propinsi NTT untuk rencana kegiatan pameran dimaksud.

Ada anggota panitia mengusulkan keseragaman corak tenun ikat dengan menggunakan bahan tenun ikat buatan pabrik, namun dibantah panitia lainnya.

“Bapak Gubernur NTT menyarankan menggunakan bahan tenun ikat asli untuk memberdayakan para pengrajin tenun ikat NTT,” tukas Sekretaris Panitia HPN 2011, Ari Moelyadi, didukung Wakil Sekretaris PWI NTT, Zacky W. Fagih.

Sumber: .::POS KUPANG | Media Menuju Masa Depan – Pameran Tenun Meriahkan HPN.


12
Jan 11

Busana Tradisional Tanimbar

Saat menghadiri upacara-upacara adat, kaum wanita Tanimbar mengenakan busana adat yang khas, yakni seperangkat busana terdiri atas kebaya dan kain tenun yang disebut tais matau atau tais wangin. Warna dasar tais pada umumnya adalah coklat, hitam kebiru-biruan, dan hitam.

Pada masa lalu, keberadaan warna-warna tersebut memang memiliki makna tersendiri yang erat kaitannya dengan status sosial seseorang.

Kain tenun dengan warna dasar coklat melambangkan kedudukan pemakainya sebagai golongan bangsawan. Hitam kebiru-biruan mencerminkan golongan menengah. Sedangkan warna hitam melambangkan pemakainya adalah golongan rakyat biasa.

Saat ini, ketentuan tersebut sudah tidak berlaku lagi. Artinya, setiap orang boleh mengenakan kain dengan warna apa saja.

Sumber: Busana Tradisional Tanimbar Taman Mini Indonesia Indah.


27
Dec 10

Kenakan Kain Tenun!

Foto: Dok. mardianapontianak

Kepedulian terhadap kain tradisional amat sangat penting tertanam dalam diri setiap bangsa Indonesia. Namun, tidak sekadar itu, bentuk kepedulian juga perlu ditunjukan dengan menggunakan dan mempromosikan berbagai jenis kain tradisional, salah satunya kain tenun.

Coba lihat gambar di atas. Gambar tersebut merupakan salah satu baju tradisional khas melayu yang dikenal dengan nama baju kurung/ teluk belanga. Pada bagian pinggang si laki-laki terdapat kain yang mengikat, sekaligus penambah keindahan dan keanggunan dari pakaian tradisional tersebut. Kain itu adalah kain tenun sambas. Indah bukan?

Adanya kombinasi kain tenun dalam berpakaian merupakan salah satu upaya penting dalam memelihara kepedulian kita, sekaligus dapat menjadi sarana promosi keelokan. Seperti saat Anda mendatangi acara pernikahan atau merayakan hari besar, alangkah lebih baiknya jika Anda mempergunakan kain tenun, walaupun hanya sebatas selendang.

Sumber tulisan dan photo: Dina Mardiana Pontianak: Kain Tenun Sambas (Tampil Menawan dengan Baju Kurung dan Telok Belanga).


27
Dec 10

Hanya Berawal Dari Cinta Tenun

Foto: Dok. Spirit Bisnis

Adinindyah, seorang mantan karyawan yang sukses bergerak di bisnis berbahan baku kain tenun. Hanya berbekal kecintaannya dengan kain tenun membuatnya nekat untuk membuka sebuah merek dagang bernama House of  Lawe.

Dengan modal terbatas, pada tahun-tahun awal Nindya dan temannya memulai usahanya dengan trial error. Namun, semangat dan jiwanya yang energik tidak membuatnya menyerah. Awalnya, mereka menawarkan hasil produksi mereka ke teman-teman di sekitar, ternyata sambutan yang didapat positif.

Walaupun sempat terpuruk akibat gempa Yogya tahun 2006, Nindya masih berhasil bangkit dengan bantuan dana dari NGO. Perjuangan panjangnya bersama teman-temannya sekarang berbuah manis dengan kepemilikan workshop di kawasan Bugisan, dan ruang pamer produk di salah satu sudut Galeri Amri Yahya kawasan Gampingan.

Sumber tulisan dan photo: Berawal dari Kecintaan House of Lawe Eksis Menggarap Tenun | Tabloid Spirit Bisnis.


27
Dec 10

Primadona Kain Tenun Sulawesi Tenggara, Tenun Tolaki

Foto: Dok. Majalah Expo

Tenun Tolaki merupakan primadona kain tenun khas Sulawesi Tenggara. Hingga saat ini tradisi menenun masih berkembang karena kecintaan masyarakatnya terhadap kain tradisional tersebut.

Salah satu trik dalam mempertahankan kebudayaan kain tolaki ini adalah dengan menciptakan mitos. Mereka selalu menjadikan kain tenun sebagai pakaian kebesaran dalam setiap pesta adat di lingkungan masyarakat tolaki. Mereka berkeyakinan, jika dalam upacara adat tidak menggunakan kain tenun tolaki, maka akan terasa ada yang sangat kurang.

Motif yang cukup terkenal di masyarakat tolaki adalah ragam hias mua. Motif ini biasanya menggunakan warna jingga muda, kelabu, biru laut, kuning susu, hijau lumut, dan merah samar. Selain itu digunakan juga benang emas yang membentuk motif garis halus dan kesan bunga kecil.

Kain tenun bercorak biasa disebut sebagai kain coraj hujan panas karena adanya kesan berkilat yang disebabkan adanya benang emas. Jika benang emas membentuk garis lurus maka disebut sebagai tenun/songket selit.

Sumber tulisan dan photo: Majalah Expo: Kain Tenun Tolaki.


27
Dec 10

Di Usia 9 Tahun Sudah Ahli Menenun

Foto: Dok. Kurnia-Geografi.Blogspot

Pulau Rote merupakan salah satu daerah produsen kain tenun yang sangat potensial. Kampung Ndao, sebuah kampung yang penduduknya banyak berprofesi sebagai penenun. Kampung ini terletak di sebuah pulau kecil yang bisa ditempuh dengan perahu selama tiga jam.

Banyaknya profesi penenun, tidak lepas dari tradisi yang mewajibkan setiap perempuan Ndao harus bisa menenun. Salah satu penenun, Ibu Wenty, mengatakan dapat membuat tiga kain tenun dalam sebulan dengan menggunakan benang sutera. Bahkan di usia 9 tahun mereka telah mengetahui atau ahli dalam kegiatan menenun. Dengan pembiasaan seperti ini, maka kebudayaan pun dapat terjaga sampai ke generasi selanjutnya.

Sumber tulisan dan photo: KURNIA-GEOGRAFI : Oleh-oleh dari Rote, Melongok Tenun Ikat


26
Dec 10

Potensi Tenun Ikat di Pulau Ndao-Nuse Perlu Digali

Upaya-upaya untuk membangkitkan daerah-daerah produksi tenun yang mulai terpuruk memang sangat perlu dilakukan. Hal ini tidak lepas dari peran aktif pemerintah daerah dalam memberikan dukungan kepada masyarakat penenun.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Bupati Rote Ndao, Drs. Lens Haning, M.M yang lewat pidatonya menyatakan pentingnya dukungan pemerintahan kabupaten untuk mengoptimalkan potensi kain tenun ikat di Pulau Ndao dan Pulau Nuse,  Kecamatan Rote Barat.

Dengan cara seperti inilah, kemungkinan meningkatnya pendapatan masyarakat pasti tercapai, yang kemudian nantinya akan berimbas pada pendapatan asli daerah.

Sumber tulisan: .::POS KUPANG | Media Menuju Masa Depan – Potensi Tenun Ikat di Pulau Ndao-Nuse Perlu Digali.


26
Dec 10

Tekstil Dibukukan

Sejarah tekstil di Indonesia ternyata sangat menarik minat Mary Hunt Kahlenberg yang merupakan kurator di sebuah Museum Tekstil di Washington D.C., Amerika. Ketertarikannya tersebut tertuang dalam buku yang berjudul ”Five Centuries of Indonesian Textile” yang merangkum koleksi tekstil sejak 500 tahun dari seluruh kepulauan Indonesia.

Buku tersebut berisikan contoh tenun antik dan langka dari seluruh daerah Indonesia, dilengkapi dengan gambar-gambar yang memperlihatkan detail kain. Dengan adanya buku ini Mary mengharapjan meningkatnya standar hidup para petenun Indonesia.

Tidak sekadar menampilkan keeksotisan variasi kain tradisional. buku ini juga memberikan informasi mengenai sejarah tekstil sejak tahun 300 SM.

Sumber tulisan: Bali Post—Mary Hunt Bukukan Pertekstilan Indonesia.